Kita tumbuh dengan cerita tentang penjajahan. Tentang bagaimana para pahlawan berjuang hingga mengorbankan hidup demi merebut kemerdekaan Indonesia. Sejak kecil kita diajarkan bahwa penjajah datang dari luar negeri, membawa senjata, merampas hasil bumi, dan membatasi kebebasan rakyat.
Tapi kini, setelah 81 tahun merdeka, aku mulai bertanya. Kalau penjajah itu sudah pergi, kenapa masih banyak orang yang merasa belum benar-benar bebas alias masih terjajah?
Mungkin… hari ini penjajah itu tidak datang dari negara lain dengan kapal. Mungkin sekarang penjajahan itu sudah berubah bentuknya. Penjajah tidak lagi membawa senjata dan merampas hasil bumi seperti jaman dulu. Mungkin penjajah hari ini tidak lagi merampas tanah kita. Mereka justru mengambil sesuatu yang jauh lebih sulit kita sadari: kesempatan untuk hidup lebih adil.
Sistem bernegara kita masih dipenuhi korupsi, kolusi dan nepotisme, sehingga hak rakyat akan masa depan yang sejahtera dirampas oleh segelintir orang yang memegang kekuasaan.
Korupsi bukan hanya terjadi pada anggaran. Kita juga melihat bagaimana kekayaan alam yang seharusnya menjadi sumber kesejahteraan bersama justru belum sepenuhnya dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sekitar. Kita melihat hasil bumi Indonesia dikeruk sampai habis tapi masyarakat di sekitar area tambang masih banyak yang hidup tidak sejahtera. Padahal, kalau daerah tersebut memiliki kekayaan alam melimpah, bukankah seharusnya masyarakatnya sangat berkecukupan?
Banyak rakyat kita kesulitan mengakses kesehatan, pendidikan dan pekerjaan yang layak. Di berita nasional aku melihat ada seorang ibu hendak melahirkan yang sampai harus ditandu oleh warga menuju puskesmas terdekat dari desanya karena akses jalan yang sangat buruk sehingga tidak bisa dilalui kendaraan. Rasanya sulit mengatakan kita sudah merdeka ketika akses menuju layanan kesehatan saja masih menjadi perjuangan.
Di berbagai media kita melihat kontras yang menyakitkan. Bangunan sekolah kehilangan separuh atapnya, sementara di depannya siswa-siswa menerima ompreng MBG. Bukankah yang lebih mendesak untuk keamanan dan kenyamanan mereka belajar adalah bangunan sekolah yang layak?
Masih banyak cerita tentang siswa berprestasi yang kesulitan masuk sekolah impiannya. Di sisi lain, selalu muncul anggapan bahwa kedekatan dan koneksi bisa membuka jalan yang tidak dimiliki semua orang.
Rasanya menyedihkan ketika anak-anak diajarkan bahwa kerja keras akan membuka jalan. Namun di saat yang sama, mereka tumbuh dengan cerita bahwa koneksi sering kali lebih menentukan daripada prestasi. Jika kepercayaan terhadap keadilan mulai hilang sejak di bangku sekolah, pelajaran apa sebenarnya yang sedang kita wariskan kepada mereka?
Ironisnya, saat rakyat mulai merasa gerah dan menyuarakan kritikannya, saat ini kebebasan kita untuk berpendapat nampaknya makin dibatasi. Belakangan ini kita juga menyaksikan berbagai kritik di ruang digital yang berujung pada pemblokiran akun, intimidasi, atau tekanan terhadap mereka yang vokal menyampaikan pendapat. Sehingga aku lihat dampaknya membuat banyak orang memilih diam karena takut disalahpahami, diserang, dicap.
Melihat semua itu rasanya… kita belum beneran lepas deh dari penjajahan…
Namun setelah menyalahkan begitu banyak hal di luar diri kita, aku mulai bertanya lagi.
Jangan-jangan…
Sebagian penjajah itu juga hidup di dalam diri kita sendiri. Pernahkan kalian berpikir bahwa mungkin kita juga ikut memelihara penjajah itu?
Lho kok begitu?? Ya… pernahkah kalian melakukan salah satu hal ini:
• memberi uang pelicin agar urusan lebih cepat
• memanfaatkan orang dalam
• membiarkan kecurangan karena merasa bukan urusan kita
• menyebarkan informasi tanpa memeriksa kebenarannya
• memilih diam ketika melihat ketidakadilan
Pernah? Hehehe… tanpa kita sadari, hal-hal tadilah yang secara tidak langsung terus memelihara kebiasaan yang menciptakan bibit-bibit penjajah di dalam diri kita. Jadi kurasa… sepertinya mulai sekarang kita pun harus ikut berbenah.
Kalau dulu para pahlawan memperjuangkan kemerdekaan dari bangsa lain, hari ini mungkin tugas kita berbeda.
Kita memperjuangkan kemerdekaan dari korupsi.
Dari ketidakadilan.
Dari rasa apatis.
Dari kebiasaan yang membuat bangsa ini sulit maju.
alu, ketika 17 Agustus berikutnya tiba, pertanyaannya bukan lagi sekadar apakah kita akan mengibarkan bendera.
Melainkan, sudahkah kita ikut mengusir penjajah yang hari ini hidup di dalam sistem, dan di dalam diri kita sendiri?