Setiap 17 Agustus Kita Merayakan Kemerdekaan. Tapi Apa yang Sebenarnya Kita Rayakan?

Tahun ini aku jadi merasa tidak bersemangat merayakan kemerdekaan Indonesia.

Ya, seperti yang kita tahu, sebentar lagi tanggal 17 Agustus. Biasanya jalan-jalan mulai dihiasi ornamen-ornamen merah putih, berbagai lomba biasanya diadakan di sekolah atau di komunitas-komunitas untuk merayakan kemerdekaan Indonesia. Bahkan mungkin kamu juga sedang mempersiapkan perayaan di tempatmu saat ini??

Iya sih, di atas kertas kita memang sudah merdeka selama 81 tahun. Tapi, tahun ini keresahanku sepertinya sudah sampai pada titik: Kok rasanya masih banyak hal yang membuatku bertanya, sudahkah kita benar-benar merdeka sebagai rakyat Indonesia?? Ada yang merasakan hal yang sama?

Kita sering melihat berita bahwa saat ini negara sedang giat membangun masa depan bangsa dengan slogan gemilang “Indonesia Emas”. Tapi, di berbagai berita juga kita bisa saksikan masih banyak daerah dengan sekolah yang atapnya bocor, bahkan rusak parah. Siswanya ada yang harus belajar bergantian, bahkan harus putus sekolah.

Di sisi lain, kita juga melihat pembangunan gedung-gedung baru yang megah untuk berbagai kepentingan negara, lalu mobil-mobil dinas pejabat yang tiap tahun diganti. Ironinya adalah, untuk membangun Indonesia Emas, sudahkah pendidikan menjadi prioritas yang benar-benar terasa sampai ke ruang kelas?

Fokus negara malah terlihat berada di program Makan Bergizi Gratis, dengan memotong anggaran pendidikan. Negara ingin anak-anak tumbuh sehat dengan makanan bergizi, itu tentu tujuan yang baik. Namun ketika sebagian sekolah masih kekurangan fasilitas dasar, gaji guru belum memadai, muncul pertanyaan yang wajar: apakah pembangunan fisik untuk program tertentu sudah berjalan seiring dengan pemerataan kualitas pendidikan?

Kemudian, hampir tiap hari sekarang ini kita dipertontonkan berita tentang operasi tangkap tangan, penyalahgunaan anggaran, dan kasus korupsi yang nilainya triliunan. Yang paling menyedihkan bukan hanya jumlah uangnya, tapi bayangan tentang apa saja sebenarnya yang bisa dinikmati rakyat dari uang itu. Berapa sekolah yang bisa dibangun? Berapa beasiswa yang bisa diberikan? Berapa puskesmas yang bisa dilengkapi?

Karena pemerintahan yang berhasil menurutku bukan yang hanya bisa menangkap koruptor tiap hari, tapi yang bisa menciptakan sistem di mana korupsi sudah bukan lagi bisa menjadi pilihan.

Kita membayar pajak dengan harapan negara memberikan timbal balik berupa pelayanan yang membaik, fasilitas publik yang memadai, serta pendidikan dan kesehatan yang tidak lagi menjadi sebuah kemewahan. Tapi ketika banyak persoalan mendasar yang belum terselesaikan, wajar kan jika kita bertanya: apakah setiap rupiah yang kita bayarkan benar-benar kembali menjadi manfaat untuk seluruh masyarakat, bukan hanya memperkaya segelintir rakyat?

Akhirnya aku sadar, mungkin yang sebenarnya kita rindukan bukan kemerdekaan dari penjajah.

Melainkan kemerdekaan dari korupsi yang menggerogoti masa depan.

Kemerdekaan dari kebijakan yang terasa jauh dari kebutuhan rakyat.

Kemerdekaan dari rasa takut untuk menyatakan pendapat di ruang publik.

Dan kemerdekaan dari perasaan bahwa pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan masih harus berebut porsi yang sedikit.

Karena seharusnya makna kemerdekaan tidak berhenti ketika bendera dikibarkan.

Kemerdekaan baru benar-benar hidup ketika setiap masyarakat merasakan bahwa negara hadir, mendengar, dan memprioritaskan mereka!

Dan aku percaya, kemerdekaan itu juga bisa dihidupkan dengan keberanian kita semua untuk terus menjaga integritas, peduli, mengawasi, dan menyuarakan apa yang menurut kita belum benar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

 

 / 

Sign in

Send Message

My favorites

document.addEventListener("DOMContentLoaded", function() { // Kunci aman: Jangan jalankan script ini sama sekali di halaman dashboard/akun! if (window.location.pathname.includes('/my-account')) { return; } const correctPhone = '6287761588825'; const wrongNumbers = ['087761588825', '6282341777336', '082341777336']; // Ubah link WA yang salah hanya jika di luar dashboard document.querySelectorAll('a[href*="wa.me"], a[href*="api.whatsapp.com"]').forEach(link => { wrongNumbers.forEach(wrongNum => { if (link.href.includes(wrongNum)) { link.href = link.href.replace(wrongNum, correctPhone); } }); }); });document.addEventListener("DOMContentLoaded", function() { // 1. Mencegah script berjalan di halaman Akun/Dashboard pengguna if (window.location.pathname.includes('/my-account')) { return; } const correctPhone = '6287761588825'; // Nomor WA tujuan yang benar const wrongNumbers = ['087761588825', '6282341777336', '082341777336']; // 2. Perbaiki link WhatsApp yang salah (hanya jika mengandung api/wa.me) document.querySelectorAll('a[href*="wa.me"], a[href*="api.whatsapp.com"]').forEach(link => { wrongNumbers.forEach(wrongNum => { if (link.href.includes(wrongNum)) { link.href = link.href.replace(wrongNum, correctPhone); } }); }); // 3. Tombol fallback WhatsApp khusus di halaman detail properti const isListingPage = document.body.classList.contains('single-rz_listing') || window.location.pathname.includes('/listing/'); if (isListingPage) { const waContainer = document.querySelector('.rz-action-whatsapp, .rz-contact-whatsapp'); if (waContainer) { const currentUrl = encodeURIComponent(window.location.href); const defaultMessage = encodeURIComponent("Halo, saya tertarik dengan properti ini: ") + currentUrl; let btn = waContainer.querySelector('a'); if (!btn) { btn = document.createElement('a'); btn.className = 'rz-button rz-button-accent rz-wide'; btn.style.marginTop = '10px'; btn.style.backgroundColor = '#25D366'; btn.style.color = '#fff'; btn.innerText = ' Chat via WhatsApp'; waContainer.appendChild(btn); } btn.href = `https://api.whatsapp.com/send?phone=${correctPhone}&text=${defaultMessage}`; btn.target = '_blank'; } } });