Kalau Kita Ingin Indonesia Lebih Baik, Mulainya Bukan dari Istana!

Makin hari rasanya selalu ada saja berita yang membuat kita menghela napas. Kasus korupsi, kebijakan yang bikin geregetan, atau pelayanan publik yang mengecewakan. Setiap kali melihat berita seperti itu, kamu mungkin berpikir seperti aku, “Pemerintah harus berubah”.

Tapi, belakangan ini aku mulai bertanya. Kalau semua orang menunggu perubahan dimulai dari Istana, siapa yang akan mulai mengubah Indonesia dari rumahnya sendiri?

Kita sering mengira negara maju lahir karena pemimpinnya hebat. Padahal, Jepang dihormati dunia bukan hanya karena pemerintahnya. Orang mengingat Jepang karena masyarakatnya terbiasa antre tanpa diawasi, mengembalikan barang yang hilang, menjaga kebersihan, dan tetap tertib bahkan setelah bencana besar.

Kita sering berharap Indonesia berubah ketika pemimpinnya berganti. Padahal sejarah banyak negara menunjukkan bahwa perubahan tidak pernah bertahan hanya karena satu orang hebat. Pemimpin memang menentukan arah. Namun yang membuat sebuah bangsa benar-benar maju adalah ketika masyarakatnya ikut menjaga nilai yang sama, bahkan ketika tidak ada yang mengawasi.

Kita tentu ingin Indonesia menjadi lebih baik. Alam mengajarkan hal yang sama. Seekor semut tidak bisa membangun sarang besar sendirian. Tidak ada satu semut yang mengerjakan semuanya. Seluruh koloni bekerja sesuai perannya. Bangsa pun demikian.

Kita tidak bisa berharap perubahan itu datang dari istana (saja). Kita juga harus menjadi “koloni semut” yang tahu perannya masing-masing dan membentuk kebiasaan yang bisa memperbaiki nilai-nilai kerakyatan Indonesia.

Kebiasaan-kebiasaan ini tidak perlu BESAR dan HEBAT, tapi konsisten kita lakukan sehingga lama-lama akan menjadi nilai di masyarakat. Karena perubahan sering kali dimulai dari keputusan yang terlihat sepele seperti:

  • Kalau ingin Indonesia lebih jujur, berhentilah memberi uang pelicin walaupun prosesnya lebih lama
  • Kalau ingin Indonesia lebih adil, berhentilah mencari “orang dalam” saat mengurus sesuatu
  • Kalau ingin Indonesia lebih bersih, jangan buang sampah sembarangan lalu menyalahkan pemerintah karena banjir
  • Kalau ingin Indonesia lebih cerdas, biasakan membaca dengan baik dan memeriksa informasi sebelum membagikannya
  • Kalau ingin Indonesia lebih santun, ajarkan anak meminta maaf dan menghormati guru
  • Kalau ingin Indonesia bebas korupsi, jangan bangga ketika berhasil “menembus aturan” lewat jalur belakang
  • Kalau ingin pelayanan publik lebih baik, laporkan pungutan liar daripada ikut membayarnya
  • Kalau ingin demokrasi sehat, pilihlah pemimpin karena integritas, bukan karena uang atau popularitas
  • Kalau ingin Indonesia lebih aman, jangan diam ketika melihat ketidakadilan

Kita sering berkata Indonesia dipenuhi koruptor. Tapi berapa kali kita bangga karena punya kenalan yang bisa ‘mempermudah urusan’?

Kita mengeluh hukum tidak adil.
Tapi ketika keluarga kita melanggar aturan, kita berharap ada pengecualian.

Kita sering mengutuk nepotisme. Tapi diam-diam kita juga berharap keluarga atau teman mendapat perlakuan khusus.

Mungkin memang korupsi tidak selalu dimulai dari miliaran rupiah. Kadang ia dimulai dari kebiasaan kecil yang kita anggap wajar. Anak-anak tidak belajar tentang kejujuran dari pidato Hari Kemerdekaan. Mereka belajar dari cara orang tuanya mengurus surat-surat, dari cara gurunya bersikap, dari cara orang dewasa memperlakukan aturan.

Indonesia mungkin tidak bisa berubah besok. Mungkin juga tidak tahun depan. Perubahan besar memang jarang lahir dalam semalam.

Karena pada akhirnya…

Negara bukan hanya mereka yang duduk di Istana. Negara adalah kita.

Dan setiap kali kita memilih jujur daripada curang, memilih peduli daripada diam, memilih memperbaiki daripada mengeluh, saat itulah Indonesia sedang dibangun.

Bukan dari Istana. Melainkan dari rumah-rumah kita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

 

 / 

Sign in

Send Message

My favorites